Selasa, 03 Agustus 2010

3 ORANG KORBAN DITEMUKAN SELAMAT DAN TERDAMPAR DI PULAU ULAR



KENDARI, 03/08/10--- 3 (tiga) orang korban tenggelamnya KM. Tiga Putra yakni Arisoni, Azis dan La Sari yang pada Senin 02/08 kemarin tenggelam di jalur pelayaran kota Bau-Bau mnuju ke Pulau Kadatua Kab. Buton. Ketiga korban yang sebelumnya dinyatakan hilang Selasa 03/08 berhasil ditemukan oleh Tim pencari dari Pos SAR Bau-Bau yang di pimpin langsung oleh Koordinator Pos SAR Bau-Bau  Basrano, SE, ketiga korban ditemukan pada pukul 09.30 wita terdampar di Pulau Ular yang berjarak 4 mil laut dari Pulau Kadatua. Setelah seluruh korban di evakuasi mereka langsung diserahkan kepada keluarga masing-masing dan akhirnya operasi dinyatakan selesai. “Mengutamakan keselamatan dalam berTransportasi adalah hal yang mutlak karena Keselamatan Bukanlah Suatu Hal Yang Kebetulan”
Aris/Humas SAR Kendari

Senin, 02 Agustus 2010

4 ORANG SELAMAT 3 ORANG MASIH DALAM PENCARIAN


KENDARI---Setelah menerima informasi dari Udin (pemilik kapal) pada pukul 14.30 korpos SAR Bau-Bau bersama  5 orang anggotanya langsung melakukan pencarian terhadap KM Tiga Putra yang tenggelam di jalur pelayaran Bau-Bau menuju Pulau Kadatua Kab. Buton dengan menggunakan Sea Rider,  sampai berita ini diturunkan tersisa 3 orang penumpang lagi yang masih dalam pencarian Tim yang di pimpin langsung oleh Basrano. SE (Koordinator Pos Sar Bau-Bau ).
KM Tiga Putra tenggelam pada hari senin, 02 Agustus 2010 pukul 11.00 wita yang saat itu memuat 7 orang penumpang termasuk ABK dan Nahkodanya.

Aris/Humas SAR Kendari

Sabtu, 24 Juli 2010

PERAHU DAN PENUMPANGNYA LOST CONTACT


KENDARI --- Hajjah Halida, pemilik kapal motor (KM) Citra Harapan GT 104, melaporkan kapalnya tersebut lost contat (putus hubungan) sejak tanggal 12 Juli 2010 pkl. 10.30 WIB. Namun pemilik kapal baru melaporkan musibah tersebut ke Badan SAR Nasional, melalui Pos SAR Bau Bau dan diteruskan ke Kansar Kendari, pada 23 Juli pkl. 00.15 WITA.
Kapal yang mengangkut 10 orang penumpang sedang dalam perjalanan dari Pulau Wetar – Wanci. Hj Halida menyebutkan ciri-ciri kapal antara lain berwarna kombinasi hijau dan putih.
Basarnas telah berkoordinasi dengan Stasiun Radio Pantai (SROP) dan Adpel Kendari untuk melakukan penanganan seperlunya, namun hingga berita ini diturunkan keberadaan kapal berikut penumpangnya masih nihil.
Ditulis oleh ams-pusdatin
Sabtu, 24 Juli 2010 17:24 

Kamis, 08 Juli 2010

LUAPAN SUNGAI KONAWEHA MERENDAM DESA WAWORAHA KAB. KONAWE

KENDARI ---Tim SAR Kendari mengevakuasi beberapa korban banjir di Desa Waworaha Kec. Puriala Kab. Konawe Sul-Tra yang telah beberapa hari terisolasi karena banjir yang tiap tahun melanda perkampungan tersebut. Sungai Konaweha merupakan sungai besar yang membentang melewati beberapa Kabupaten yang ada di Sulawesi –Tenggara, salah satunya Kab. Konawe.
Semula Tim SAR sedikit mengalami kesulitan mengevakuasi karena penolakan sebagian besar warga yang berprofesi sebagai petani kakao. Salah satu warga, Rahman (32) sempat mengutarakan alasan mereka menolak dievakuasi . “Saya takut kalau rumah dan semua hasil kebun saya dicuri sama maling,” tegasnya sesaat tiba di tempat pengungsian.
Setelah dilakukan pendekatan, seluruh warga bersedia dievakuasi ke tempat yang telah disediakan pemerintah setempat. Tercatat sebanyak 89 Kepala Keluarga, di antaranya seorang ibu hamil 7 bulan dan beberapa balita. (Aris/Humas SAR Kendari)

Kamis, 10 Juni 2010

KAPAL TAIWAN LOST CONTACK DI PERAIRAN MENUI SULAWESI TENGGARA

KENDARI, 10 Juni 2010 --- Lima orang anak buah kapal (ABK) asal Indonesia beserta nakhoda berkewarganegaraan Taiwan, Chen Chin-Chung, terombang-ambing di atas kapal Chin Hai Tsai berbendera Taiwan yang mengalami mati mesin yang selanjutnya Lost Contack di perairan Menui Sulawesi Tenggara.Informasi dari Taipei Economic and Trade Office ke Direktur Operasi dan Latihan menyebutkan, posisi kapal pada 02 49 LS – 122 54 BT dan telah terombang-ambing sejak tanggal 5 Juni lalu dan dilaporkan Pada tanggal 09 Juni kemarin. Diropslat melalui radiogram memerintahlkan Kantor SAR Kendari untuk melakukan pengecekan dan koordinasi dengan instansi terkait. Hal ini langsung ditindaklanjuti Kansar Kendari dengan bantuan Stasiun Radio Pantai (SROP) Kendari memaklumat-pelayarankan kasus ini. Setelah Di konfirmasi oleh SAR Kendari Via telepon Mr. Edward Tao kepala cabang dari perusahaan Taipei Economic Trade Office (TETO)  di Indonesia perusahaan yang melaporkan Musibah ini dengan menyurat ke Kantor Pusat Basarnas di Jakarta yang selanjutnya di tindaki oleh Kantor SAR Kendari. sampai saat ini Petugas Komunikasi dari Kantor SAR kendari masih terus melakukan Precomm ke instansi atau potensi yang terkait---Pusdatin SAR Kendari

Selasa, 11 Mei 2010

SEDERHANA PEMBUKAAN LATDAS ANGKATAN 41 BADAN SAR NASIONAL DIKENDARI

Peserta Latdas SAR angkatan 41 Tahun ini yang diselenggarakan di kendari berjumlah 43 orang, 3 kantor SAR dari region yang sama yakni region III diantaranya kantor SAR Kendari 27 orang, kantor SAR Ambon 5 orang dan kupang 10 orang, kegiatan ini  akan berlangsung 17 Hari dimulai pada tanggal 09 - 25 Mei 2010 yang berlokasi di Lanud Wolter monginsidi selama 11 hari dan dilanjutkan dengan aplikasi lapangan di pegunungan Ranomeeto dan juga Pantai Batugong kendari.
kegiatan ini resmi di buka senin, 10 mei 2010 oleh Bapak W. Suparman Kasub. sertifikasi dan pemasyarakatan SAR Badan SAR Nasional
 Pusdatin SAR Kendari#

Kamis, 04 Maret 2010

Black Box?

Black Box or kotak hitam ini adalah sekumpulan perangkat yang digunakan dalam bidang transportasi - umumnya merujuk kepada perekam data penerbangan (flight data recorder; FDR) dan perekam suara kokpit (cockpit voice recorder; CVR) dalam pesawat terbang.
kotak hitam ini dibagi menjadi tiga generasi yaitu:
Generasi pertama, Pada masa ini Flight Data Recorder mempunyai kapabilitas perekaman yang sangat terbatas, hanya meliputi 5 parameter perekaman penerbangan yaitu Heading (arah penerbangan), Altitude (ketinggian penerbangan) , Airspeed (kecepatan terbang) , Vertical Speed (percepatan vertikal) dan Time (waktu)
Kelima parameter analog tersebut direkam pada Metal Foil (semacam kertas logam yang disebut Incanol Steel), yang hanya bisa dipakai satu kali perekaman, sehingga disebut juga Foil recorder. Dengan parameter terbang yang sangat terbatas pada alat ini ditambah sulitnya untuk dapat diinterpretasikan.
Generasi kedua, didorong oleh terbatasnya parameter yang terekam pada foil recorder dan sulitnya menginterpretasi data kemudian berkembang FDR dengan menggunakan magnetic tape dengan format data digital pada tahun 1960-an. Kemampuannya merekam jauh lebih baik dengan mencakup banyak parameter data. Pada perkembangannya FDR dirasa tidak cukup untuk digunakan sebagai dasar analisa penyebab kecelakaan, maka mulai dikembangkan teknologi CVR, yang pada tahun 1965 menjadi piranti wajib semua pesawat terbang komersial.
Generasi ketiga, Pada tahun 1990, mulai dikembangkan FDR generasi ketiga yang berbasiskan teknologi solid state, disusul dengan CVR pada tahun 1992. Keunggulan black box generasi ketiga ini adalah kemampuan untuk merekam lebih banyak parameter dan waktu yang lebih lama, biaya perawatan yang lebih rendah dan pembacaan data yang lebih mudah dibandingkan dengan magnetic tape.
Kotak Hitam atau Black Box ini bisa dibilang nama beken di media aja karena nama sebenarnya adalah Flight Data Recorder (FDR) dan Cockpit Voice Recorder (CVR) yang dulunya memang berbentuk kotak berwarna hitam tetapi sekarang berganti warna menjadi jingga/oranye. Hal ini dimaksudkan untuk memudahkan pencarian jika pesawat itu mengalami kecelakaan atau crash. Namun penyebutan di kalangan media tetep kotak hitam alias black box.
Fungsi dari black box atau kotak hitam sendiri adalah untuk merekam pembicaraan antara pilot dengan ATC atau Air traffic control serta untuk mengetahui tekanan udara dan kondisi cuaca selama penerbangan tapi pada intinya Kotak Hitam ini dirancang memiliki dua fungsi:
1. Memberi akurasi dan koreksi terhadap kesalahan yang sering ditimpakan terhadap kesalahan pilot atau kesalahan sistem pesawat.
2. Untuk menganalisis insiden kecelakaan supaya menjadi bahan pencegahan kesalahan di masa selanjutnya.
Jadi..Magnetic Tape pada FDR bekerja layaknya Tape Recorder dan pada umumnya, CVR dengan Magnetic Tape merekam selama 30 menit, dengan putaran kontinyu (Continuous Loop) dengan siklus 30 menit. Setelah satu siklus, rekaman lama akan terhapus diganti dengan rekaman baru.
Sedangkan CVR berbasis teknologi Solid State mampu merekam sampai 2 jam per siklus. Saat ini magnetic tape tidak lagi digunakan oleh produsen kotak hitam, beralih ke solid state technology yang diyakini lebih andal. Solid state menggunakan sekumpulan microchips, sehingga tidak ada bagian bagian yang bergerak.
Dengan tidak adanya bagian yang bergerak membuat biaya perawatan menjadi murah dan juga akan mengurangi kemungkinan ada bagian yang pecah pada waktu terjadi kecelakaan. Kemudian data-data dan FDR dan CVR disimpan pada Memory Boards yang terdapat pada Crash Survivability Memory Unit (CSMU).
Memory Boards mempunyai ruang penyimpanan data digital yang cukup untuk mengakomodasi rekaman percakapan pada CVR hingga 2 jam dan perekaman data penerbangan pada FDR selama 25 jam.
Untuk dapat direkam pada FDR, pesawat terbang dilengkapi berbagai macam sensor untuk mengukur besaran-besaran (parameter) data penerbangan seperti Acceleration, Airspeed, Attitude, Flap Settings, Outside Air Temperature, Cabin Temperature and Pressure, Engine Performance dan banyak lagi.
FDR jenis Magnetic Tape Recorder dapat menyimpan sekitar 100 parameter, sedangkan jenis Solid State Recorder lebih dari 700 parameter. Semua data dari sensor-sensor tersebut dikirimkan ke Flight Data Acqusition Unit (FDAU) yang terletak pada Electronic Equipment Bay di bawah Cockpit dan kemudian direkam oleh Black Box, yang terletak pada bagian belakang (ekor) pesawat terbang.
Alasan pemasangan Black Box di belakang pesawat terbang mengingat bagian tersebut seringkali lebih utuh kondisinya pada saat terjadi kecelakaan dibandingkan bagian depan, sehingga akan lebih melindungi keutuhan Black Box. Blackbox yang lebih modern memiliki kemampuan self-eject serta mudah dideteksi oleh SONAR atau RADAR
Pada kecelakaan pesawat terbang, ada kalanya bagian yang tersisa adalah Black Box, itupun mungkin hanya bagian yang disebut Crash Survivability Memory Unit (CSMU), karena CSMU baik pada FDR maupun CVR memang dibuat untuk dapat bertahan (Built to Survive), oleh karenanya persyaratan dan pengujian bagian ini sangatlah ketat. Beberapa hal yang harus mampu ditahan oleh CSMU di antaranya Crash Impact yang harus mampu menahan benturan sampal 3.400 G (gaya tarik bumi), Static Crush mampu menahan beban seberat 5.000 lb (2.500 kg) selama 5 menit pada semua sumbunya. Fire Test mampu bertahan pada suhu 2.0000 F (1.1000C) selama satu jam, mampu bertahan di kedalaman laut, berbagai macam cairan, dan sebagainya.
Di samping itu, Black Box juga dilengkapi dengan Under Water Locator Beacon, untuk dapat diketahui lokasinya apabila tenggelam di laut. Alat ini mampu mengeluarkan sinyal dan kedalaman 14.000 kaki (4.267m) maksudnya bila di dalam air, kotak ini akan memancarkan sinyal ketika terguncang karena benturan. Sinyal inilah yang bisa ditangkap radar untuk menunjukkan lokasi pesawat. Namun, kekuatan sinyal terbatas. Biasanya sampai seminggu sebelum menghilang.
Untuk dapat dianalisis, data dan FDR dan CVR dibaca dengan menggunakan peralatan dan piranti lunak khusus. Di Amerika Serikat, hal ini dilakukan di laboratorium badan keselamatan transportasi nasional (National Transportation Safety Board/NTSB), yang memperoleh Read Out System dan Software dan pembuat Black Box. Proses ini dapat memakan waktu mingguan bahkan berbulan-bulan. Hasil analysis dan Black Box bukanlah satu-satunya sumber untuk dapat menyimpulkan penyebab suatu kecelakaan.
Para penyelidik di Indonesia yang dilaksanakan oleh Komite Nasional Keselamatan Transportasi (KNKT) harus menggabungkan dan mengsinkronisasikannya dengan berbagai macam temuan lainnya untuk dapat menyimpulkan secara utuh dan komprehensif Badan Otoritas Penerbangan Amerika Serikat, Federal Aviation Administration (FAA) mewajibkan pesawat terbang komersial merekam sedikitnya 11 hingga 29 parameter, tergantung dari ukuran pesawat yang kemudian aturan ini diperbaharui pada tanggal 17 Juli 1997. Pesawat yang dibuat sesudah tanggal 19 Agustus 2002 diwajibkan untuk memiliki Black Box untuk merekam sedikitnya 88 parameter.

Senin, 01 Februari 2010

Pengolah Kayu Tenggelam Di Sungai

Pengolah Kayu Tenggelam Di Sungai
kendari, 304 (01/02/10)
Musibah menimpa Ruslan, seorang pengolah kayu. Pria berusia 30 btahun itu dinyatakan hilang setelah tenggelam akibat terjatuh dari Kapal yang membawanya bersama empat pekerja lainnya.
Ketika itu Ruslan dan rekannya sedang melintasi perairan Lahinbao, Sungai Lasolo sekitar Pukul 04.00 Wita, Sabtu (30/1) lalu.
Saat itu Ruslan sedang tertidur hingga kemudian terjatuh ke sungai. Empat rekannya yang melihat langsung berusaha menolong dengan menggunakan Jerigen untuk digunakan sebagai pelampung. Sayang upaya tersebut tidak berhasil, korban tenggelam itu kini dinyatakan hilang di Sungai Lasolo, Konawe Utara sekitar Empat kilometer dari muara laut.
Sabtu lalu sekitar pukul 12.30 wita, kami menerima informasi dari Bahar, syahbandar dipelabuhan Konawe Utara soal musibah itu. Kami juga langsung turun kelapangan melakukan pencarian dibantu Syahbandar Konawe Utara, Pos Lanal, Polri dan Masyrakat “kata kepala Kantor SAR Kendari, Noer Muchlisin, kemarin. Sayang, upaya pencarian terhadap koban dengan menggunakan instrument Navigasi SAR laut itu terhambat cuaca buruk. Kemarin operasi kembali dilakukan hingga Pukul 18.00 Wita di muara Sungai namun lagi-lagi hasilnya nihil.
Tercapat banyak pencabangan sungai menuju laut dan banyak kayu yang memungkinkan korban tersangkut. Arus yang sangat deras juga membahayakan proses pencarian, jelas Kakansar Kendari.
Hambatan lain yang juga ditemukan SAR Kendari karena lokasi pencarian dengan pangkalan (Home Base) Tim sangat jauh, sekitar Tiga jam menggunakan Rubber Boat(perahu karet). Energi Tim pencarian pun menjadi terkuras . apalagi menurut laporan warga, sekitar dilokasi muara sungai diidentifikasi banyak buaya. Inilah yang membuat Tim SAR gabungan harus ekstra hati-hati . rencana operasi masih dilakukan dengan lebih mengintensifkan pembagian wilayah pencarian agar efektif dan efisien” tandas kepala Kantor SAR Kendari. (Pusdatin SAR Kendari/Aris).

Sabtu, 05 September 2009

LIFE LOCATOR BASARNAS

Sulitnya medan longsor yang menimpa Dusun Cikangkareng Kecamatan Cibinong, Kabupaten Cianjur, diakui oleh Basarnas (Badan SAR Nasional) Jakarta. Basarnas berencana gunakan alat pendeteksi untuk mengetahui titik korban longsor.

Dikatakan Kepala Seksi Opersional Basarnas Jakarta Budiawan, langkah tersebut dilakukan melihat medan yang diakuinya cukup berat untuk pencarian korban yang masih tertimbun longsor.

"Untuk memudahkan evakuasi tidak mungkin melakukan pencarian secara manual dan dilakukan terus menerus. Guna mengetahui titik korban yang terkena longsoran batu kami akan menggunakan alat pendeteksi dari helikopter," kata Budi di sela evakuasi korban, Kamis (3/9/2009).

Untuk heli, imbuh Budi, rencananya akan datang pada pukul 14.00 WIB. "Untuk sementara evakuasi tetap dijalankan manual," ujar Budi, seraya menambahkan pihaknya menerjunkan satu tim ke Cianjur yang terdiri dari lima orang.

Selain itu, pihaknya menargetkan satu minggu untuk proses evakuasi. "Ini sesuai operasional kerja Basarnas, pencarian korban bencana alam dilakukan satu minggu, jika belum selesai akan diperpanjang," uajr Budi.

Selain mengirimkan alat pendeteksi korban timbunan longsor, Basarnas juga akan mengirimkan dua tim untuk membantu proses evakuasi.

Kamis, 03 September 2009

Jumlah korban jiwa akibat gempa berkekuatan 7,3 skala Richter yang berpusat di Tasikmalaya, Jawa Barat, terus bertambah. Berdasarkan data terkini Departemen Sosial, Kamis (3/9) petang, jumlah korban meninggal mencapai 52 orang. Sedangkan puluhan lainnya yang diduga tertimpa longsor di kawasan Cibinong, Cianjur Selatan, masih dalam pencarian.

Sementara sebanyak 4.451 rumah roboh atau rusak berat dan lebih 7.400 rumah mengalami rusak ringan. Kerusakan menyebar di sembilan kabupaten dan kota di Jawa Barat. Sedangkan data Badan Nasional Penanggulangan Bencana menunjukkan, terdapat 10.695 bangunan roboh atau rusak berat, dan lebih 13 ribu bangunan rusak ringan. Lebih tiga ribu warga kehilangan tempat tinggal sehingga terpaksa mengungsi.

Rabu, 12 Agustus 2009

selam massal bunaken sail 2009

Selama ini rekor dunia selam massal dipecahkan oleh negara Australia tahun 2004 dengan jumlah 600 penyelam, tahun 2005 di Festival Kohtao menyelam massal dengan 722 penyelam dan di Maladewa menyelam massal di lakukan 900 penyelam.

"Indonesia dalam acara Sail Bunaken 2009 akan mengerahkan minimal 1.500 penyelam yang akan dilaksanakan tanggal 17 Agustus," kata Wakasal. Dalam penyelaman yang dilakukan di perairan Pelabuhan Krakatau Bandar Samudera, para penyelam mulai melakukan penyelaman pukulo 09.00 wib.

Para penyelam berasal dari Kopaska, Kopassus TNI-AD, Marinir, Dislambair,Mabes TNI AL, Ton Taipur TNI AD, Basarnas, KPLP, Lakespra, Ditpolair, Corona Diving Club, BKKBN.

Meski cuaca di sekitar lokasi cerah, namun para penyelam mengalami hambatan saat berada di dalam air yaitu banyak potongan besi dan lumpur di sekitar daerah penyelaman.

"Lumpur di dalam air lumayan mengganggu pandangan antar penyelam dan arus juga agak kuat," kata Kepala Dinas Penyelaman Bawah Air (Dislambair), Kolonel Yus Kusmany usai melakukan penyelaman. Dijelaskan dia, secara keseluruhan kegiatan persiapan untuk penyelaman massal berjalan dengan baik.

Jumat, 07 Agustus 2009

LOKASI JATUHNYA PESAWAT MERPATI NUSANTARA DI PEGUNUNGAN PAPUA


Sepuluh jenazah korban jatuhnya pesawat Merpati di Pegunungan Bintang, Papua, yang telah teridentifikasi akan diserahkan kepada keluarga, Jumat (7/8) siang. Tiga di antaranya adalah awak pesawat yaitu pilot Qodriya Nova, kopilot Pramudya Purwadi, dan teknisi Supriyadi. Bangkai pesawat yang membawa 16 orang itu ditemukan pada Selasa, (4/8). Sebelumnya, pesawat itu dinyatakan hilang.

Di Tangerang, Banten, keluarga Supriyadi sudah mempersiapkan kedatangan jenazah almarhum. Jenazah direncanakan langsung dimakamkan di pekuburan keluarga yang terletak di belakang rumah orang tuanya di kawasan Pinang, Tangerang. Supriyadi meninggal dunia dalam usia 38 tahun dan meninggalkan seorang istri serta lima orang anak. Ia bergabung dengan Merpati sejak 18 tahun silam.

KORBAN PESAWAT MERPATI YANG BERHASIL DIEVAKUASI OLEH TIM SAR


Setelah upaya evakuasi korban pesawat nahas oleh Tim Search and Rescue atau SAR beberapa kali mengalami kendala. Hari ini (6/8), Tim SAR berhasil membawa jenazah korban ke Kota Sentani, Papua. Seluruh korban yang dibawa berjumlah 15 orang.

Dari hasil pencarian, tim misi penyelamatan berhasil membawa jasad 12 penumpang dan tiga awak pesawat Merpati. Jenazah yang berhasil dievakuasi kemudian dibawa ke Rumah Sakit Bayangkara Kotaraja untuk diotopsi. Setelah pemeriksaan forensik, seluruh jenazah korban jatuhnya pesawat akan dipulangkan ke keluarga masing-masing.

Merpati melalui keterangan persnya berjanji menyantuni dan menanggung seluruh biaya pengurusan jenazah. Diharapkan proses identifikasi selesai malam ini dan jenazah bisa dipulangkan ke keluarga paling lambat Jumat pagi.

Rabu, 05 Agustus 2009

Semua penumpang dan awak pesawat Merpati yang jatuh di wilayah Abmisibil, Kabupaten Pegunungan Bintang, Papua dipastikan tewas. Hal itu disampaikan Direktur Utama PT Merpati Nusantara Airlines, Bambang Bhakti di Sentani, Rabu (5/8). "Semua penumpang dan awak pesawat dipastikan tewas akibat kecelakaan pesawat Twin Otter Merpati. Ini kami ketahui dari Tim Darat dan warga masyarakat Abmisibil yang sudah berada di lokasi jatuhnya pesawat tersebut,"

Selasa, 04 Agustus 2009


Upaya pencarian pesawat Merpati yang hilang kontak saat melakukan penerbangan rute Jayapura-Oksibil, dilakukan lewat jalur darat dan udara. Komandan Pangkalan Udara Jayapura, Kolonel Penerbang Suwandi Miharja kepada ANTARA di Jayapura, mengatakan, pihaknya sedang mempersiapkan tim dan lima armada udara untuk mencari pesawat tersebut besok pagi.

Lima pesawat yang direncanakan digunakan dalam pencarian itu dari Mission Aviation Fellowship (MAF), Associated Mission Aviation (AMA), Yayasan Jasa Aviasi Indonesia (Yajasi), Twin Otter milik Merpati dan Cassa TNI Angkatan Udara. Sementara itu upaya pencarian lewat jalur darat tetap dilakukan dengan melibatkan unsur terkait yang dapat diandalkan seperti dari tim Badan SAR Nasional (Basarnas) dan juga masyarakat.

persiapan Evakuasi Korban jatuhnya pesawat merpati


Di Bandara Sentani, Jayapura, Selasa (4/8), Tim SAR bersiap untuk berangkat dengan heli Kamov untuk melakukan evakuasi pesawat Merpati Twin Otter. Titik jatuhnya pesawat ditemukan di daerah Ampisibil Pegunungan Bintang Papua.
Tim Basarnas Jaya Pura mulai dikerahkan untuk mencari tahu keberadaan pesawat Merpati Airlines, jenis Twin Otter dengan nomor penerbangan MZ 9760, yang hilang di pegunungan Papua, Minggu 2 Agustus 2009, saat pesawat akan menuju bandara Oksibil dari Sentani.

"Satu pesawat Merpati sudah kami kerahkan untuk membawa tim SAR yang akan mencari tahu keberadaan pesawat," kata Direktur Direktur Tekhnik Merpati Airlines, Hotland Siagian kepada VIVAnews.

Soal penyebab, saat ini, managamen tidak ingin berandai-andai penyebab hilangnya kontak pesawat, yang terpenting adalah menemukan pesawat dan menyelamatkan 14 penumpang yang ikut dalam penerbangan tersebut.

Pesawat itu sendiri berangkat dari bandara Sentani pukul 10.12 menuju Bandara Oksibil. Seharusnya jarak tersebut hanya dapat ditempuh stu jam perjalanan, namun hingga kini belum tiba dan pusat kehilangan kontak.

Sabtu, 25 Juli 2009

PERKEMPINAS 2009 BAU-BAU

 
Basarnas Kendari Blog Copyright © 2009 Blogger Template Designed by Bie Blogger Template